An invitation came my way. Knowing the risks it follow, I accept it. What the hell are you doin'? Cause now I have to change my address, to the place where we called it an evil place.
A string just came my way. It is from somewhere I don't belong to, but the smell is. It's not all reddish anymore and now seemingly fade away. Where has it gone the reddish? Just because the fruit dropped off? Should it'd be happier as the spring comes? Not mere seasons, should it change, no? The leaves do, by the seasons for the sake of struggle. But still not all that fade away. C'mon, it shouldn't be that way.
Faintly heard, Kelly and his father Ozzy Osbourne sing Change: "You know the world, Is an evil place, My baby's grown now, She's found her way."Yeah, we're going through changes.
I packed my trunks, but no crowd stuffs of mine, cause the paths not finished yet. And as I departed, I only took what I needed. I guess I've changed my address.
Beberapa mungkin sudah mengenal Yvonne Ridley. Kalau belum, dia adalah wartawati Sunday Express, waktu itu, yang ditangkap oleh Taliban, 15 hari setelah 11 September 2001. Menurut ceritanya, dia dilepaskan setelah berjanji akan mempelajari Islam dan Quran. Setelah dia kembali ke Inggris dia menepati janjinya. Kini dia menjadi muslim sejak summer 2003. Sebagai seorang penulis politik dan feminis, dia sering membuat tulisan yang membela kepentingan wanita, dan kini sering membela wanita muslim. Sampai saat ini dia menjabat sebagai editor politik untuk tv Islam Channel di Inggris.
Waktu itu dia tertangkap, saat terjatuh dari keledai yang membawanya menyelundup dari Pakistan di perbatasan dengan Kabul untuk tugas peliputan. Ketika jatuh, di depan seorang tentara Taliban, di tubuhnya ditemukan kamera tersembunyi. Pada waktu itu dia menggunakan burqa, kita mengenalnya pakaian khas Taliban dari berita-berita di TV setelah kejatuhan Taliban. Burqa ini lengkap dengan kain penutup wajahnya atau cadar.
Di Belanda saat ini sedang hangat isu rancangan undang-undang larangan cadar (veil, bukan jilbab), walaupun liputan di koran-koran Belanda tidak terlalu hangat. Alasannya menurut Menteri Integrasi dan Imigrasi, Rita Verdoonk, "the Cabinet finds it undesirable that face-covering clothing - including the burqa - is worn in public places for reasons of public order, security and protection of citizens". Jika disetujui maka pemakaian cadar ini dilarang pemakaiannya di jalanan, di sekolah, kereta api, bus dan sidang pengadilan.
Para kritikus menolak keras pelarangan ini karena bertentangan dengan human right. Tapi kalangan muslim menilai bahwa pelarangan ini akan berlaku sedikit demi sedikit ke pelarangan jilbab. Isu busana muslim wanita ini memang sedang menjadi perbincangan hangat di Eropa. Perancis sudah lebih dulu melarang pemakaian jilbab di sekolah-sekolah umum. Beberapa negara bagian Jerman telah melarang guru memakai jilbab kala mengajar. Italia sudah melarang pemakaian penutup wajah karena alasan kekerasan lokal dan keamanan dalam negeri. Bulan Oktober lalu, Jack Straw, mantan menlu dan kini menjabat Ketua parlemen Inggris juga menyerukan hal yang sama (lihat di Telegraph.co.uk).
Di Belanda sendiri sangat sedikit orang yang memakai burqa. Karena itu sebagian muslim Belanda menilai hal ini tidak penting mengatur kebijakan hanya bagi sebagian kecil saja. Beberapa menilai ini hanya ulah Verdoonk saja.
Verdoonk memang dikenal dengan kebijakan imigrasinya yang keras, karenanya dikenal sebagai 'Iron Rita'. Di antaranya mewajibkan calon imigran tertentu- terutama dari Timur Tengah untuk belajar bahasa dan budaya Belanda, yang mengharuskan mereka menghormati nilai-nilai liberalisme Belanda termasuk kebebasan bagi kaum homoseks dan lesbian. Dengan usulan percaradan ini, kini kebijakan itu menjadi sesuatu yang membingungkan bagi sebagian orang.
Verdoonk juga menyulut kemarahan Muslim karena menyebutkan bahwa para imam menyebarkan terosrime lewat khutbah-khutbahnya. Hal ini mengingatkan pada kasus pembuatan film tentang kehidupan wanita muslim oleh sutradara Theo van Gogh dan skripter Ayaan Hirsi Ali. Van Gogh mati dibunuh oleh Mohammed Bouyeri, dan Hirsi Ali dideportasi karena terbukti ilegal imigran. Bouyeri disangka tersulut emosinya akibat dari khutbah Jumat yang diikutinya.
Verdoonk juga secara terang-terangan membela seorang wanita Belanda yang menabrakkan mobilnya dan melindas sampai mati seorang pemuda Maroko yang merampas tasnya dari mobilnya. Ia juga membatalkan pertemuannya dengan para tokoh muslim yang menolak berjabat tangan dengannya.
Memang pemakaian busana Muslim ini bermacam-macam (lihat di sini). Yvonne Ridley kini juga berjilbab, yang menurutnya, "My dress tells you that I am a Muslim and that I expect to be treated respectfully, much as a Wall Street banker would say that a business suit defines him as an executive to be taken seriously." Dan dia menulis pembelaannya tentang cadar di Washington Post, 22 Oktober: How I came to love the veil.
Poster ini terpampang di papan pengumuman di kampusku. Wow, ternyata pemilihan dosen (ternyata Dutch:docent) terbaik tahun ini. Who is your most excellent teacher? Posternya sangat menarik. Menggambarkan macam-macam tingkah polah. Kulihat beberapa teacher di programku masuk kandidat. Salah satunya Andre ... (family name disamarkan). Dosen yang satu ini ngocol dan ngoceh abis. Kuliah bisa 3-4 jam tanpa istirahat. Tapi kuliahnya memang menarik. Tapi di sini saya akan bercerita tentang tulisan docenten yang bahasa Inggrisnya kurang gress. Itu bukan pendapatku, tapi ditulis di PleeSF atau koran WC -newsletter-nya PSF (Progressieve Studenten Fraktie). PSF sebagai salah satu fraksi di Student Council, memasang newsletter-nya di (hampir) semua WC student flat. Ide yang brilian- menurut saya- karena pasti mau tidak mau dibaca oleh yang sedang nongkrong -daripada melamun!
Nah, balik lagi ke Engels, edisi November PleeSF ini menulis tentang Engels van docenten berdasarkan hasil diskusi terbuka mahasiswa. Katanya, Universitas ini membuka program dalam bahasa Inggris, tapi beberapa dosen kesulitan menyampaikan kuliahnya dalam bahasa Inggris. Lebih parah lagi, beberapa mahasiswa tidak mengerti soal exam. Jangankan menjawab, mengerti soalnya aja susah. **Aduh.. pantesan exam kemarin aku gak bisa jawab, ternyata soalnya susah. Karena biasanya bagiku, soal-soalnya mudah-mudah, cuma jawabannya aja yang susah**.
Nah, ditulis di situ bagaimana bisa begitu? Maka solusinya harus dicari jalan keluarnya untuk meningkatkan kapasitas bahasa Inggris dosennya.
Memang di kelas juga, para mahasiswa Belandanya pun kadang-kadang agak kesulitan berdiskusi dalam bahasa Inggris. Jadi ingat teman Dutch saya dulu yang artikel jurnalnya diedit ulang oleh orang Inggris dengan alasan Dutch-English, padahal menurut saya sudah English. Tapi tetap saja kita-kita kalah jauh dari mereka, dan masih lebih banyak yang fluently. Karena bahasa Inggris sudah diajarkan jauh-jauh hari sejak elementary school.
Beberapa teman Belanda saya kebanyakan bisa bicara atau mengerti beberapa bahasa dan termasuk cepat tangkap. Termasuk bahasa Indonesia yang katanya sangat mudah gramatikanya. Iya yah??
Hari Sabtu pagi ini Sinterklaas tiba di Wageningen, dengan pakaian kebesarannya berwarna merah putih dengan mahkota yang mewah berkendara kereta yang ditarik kuda berwarna putih. Kedatangannya didahului oleh sepasukan drum band. Maka ramailah suasana, persis seperti pawai 17-an. Di Centruum kota Wageningen, anak-anak berkumpul ditemani orang tuanya berebut untuk bersalaman, berfoto dan bernyanyi menyambut Sinterklaas. Para orangtua saling bercerita mengenang masa kecil mereka tentang Sinterklaas sambil terbahak-bahak.
Cerita Sinterklaas ini kata Cindy teman kost-ku, memang khas Belanda (dan Belgia). Kemudian diadaptasi dalam Bahasa Inggris jadi Santa Claus. Itu kata orang Belanda, a proud Dutch. Perayaan ini untuk mengenang kematian Sint Nikolaas, yang terkenal suka memberikan hadiah secara rahasia.
Sinterklaas datang ditemani oleh beberapa pelayannya yang dipanggil Zwarte Pieten (si Piet -Piet hitam) karena muka dan tangannya berwarna hitam. Si Piet-Piet hitam ini katanya representasi dari setan-setan yang berhasil ditaklukan oleh Sinterklaas dan menjadi abdinya. Anak-anak, beberapa di antaranya berkostum sang pangeran, ribut memanggil-manggil si Piet hitam berharap diberi kukis dan permen. Kue kecil-kecil itu bernama pepernoten/kruidnoten. Tetapi beberapa anak kecil tak kuasa menyembunyikan ketakutannya melihat muka si Piet yang hitam legam dan bertingkah menakutkan. Sementara yang sudah agak besar hanya ketawa-ketawa senang.
Sinterklaas membawa buku tebal di tangan kanannya, yang katanya berisikan semua nama anak-anak kecil dengan catatan apakah si anak berkelakukan baik atau buruk selama setahun ini. Nah dari tengah November ini sampai puncaknya 5 Desember, sebelum tidur malam anak-anak Belanda ini akan bernyanyi memuji-muji Sinterklaas dan meletakkan sepatunya berisi wortel makanan kuda Sinterklaas di depan perapian- sekarang sepertinya di depan heater ya. Mereka berharap dicatat sebagai anak baik dan mendapatkan hadiah dari Sinterklaas di malam 5 Desember atau pagi 6 Desember nanti sebagai puncaknya. Suka citanya mungkin sama seperti anak-anak di kita menerima hadiah lebaran.